Mantap!!!!…Ketum JMSI Apresiasi Kesepakatan Dewan Pers Dan Mabes Polri

Mantap!!!!...Ketum JMSI Apresiasi Kesepakatan Dewan Pers Dan Mabes Polri

kompastalk.co | Ketua Umum JMSI Teguh Santosa apresiasi pertemuan dan kesepakatan antara Dewan Pers dan Mabes Polri dan meminta agar semua media massa berbasis internet yang menjadi anggota JMSI, memperhatikan substansi pertemuan dan menjadikannya pedoman penting dalam berbagai pemberitaan seputar Pemilu 2024.

Polarisasi politik, sebut mantan anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini, adalah sesuatu yang mungkin terjadi di arena pemilu, karena pada hakikatnya pemilu merupakan sebuah kompetisi politik untuk memperebutkan kekuasaan.

Kesepakatan Dewan Pers dan Mabes Polri untuk memitigasi polarisasi yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan Pemilu 2024, disambut baik oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Baca Juga:
Kejati Sumut: Berkas Perkara 8 Tersangka Kerangkeng Manusia Dinyatakan Lengkap ( P21 )

Kesepakatan itu diambil dalam pertemuan antara Ketua Dewan Pers Prof Azyumardi Azra dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, Selasa (21/6).

Dalam pertemuan itu, kedua institusi menyoroti polarisasi dan keterbelahan masyarakat yang terjadi akibat penggunaan isu identitas dan diksi-diksi kebencian, juga informasi bohong atau hoax.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Dewan Pers didampingi Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya, anggota Dewan Pers Yadi Hendriana, Arif Zulkifli, Totok Suryanto, Ninik Rahayu dan Sapto Anggoro.

Menurut Teguh, karena dipahami sebagai kompetisi politik yang legal, ada pihak-pihak yang menganggap berbagai cara dapat dilakukan demi memenangkan kompetisi, termasuk menggunakan dan memanfaatkan media massa dan profesi wartawan.

Baca Juga:
Ini!!!….Cara Mengurus KK Yang Hilang

“Kita tidak boleh larut dan terjebak. Pemilu memang ajang perebutan kekuasaan. Tetapi harus diingat, pemilu juga merupakan indikator penting dari demokrasi dan masyarakat sipil. Pertarungan atau kompetisi politik dalam praktik demokrasi adalah dengan mengedepankan keberadaban,” ujarnya.

Teguh Santosa yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta mengemukakan, bahwa Negara demokratis yang genuine ditopang oleh kompetisi politik yang beradab yang mengedepankan agenda-agenda kemajuan bersama.

Baca Juga:
Pertemuan Anak Didiknya Di Kopassus Kamboja, Menhan Prabowo Merasa Muda Kembali

Mantan Wakil Presiden Confederation of ASEAN Journalist (CAJ) ini menambahkan, bagi media massa, khususnya yang menggunakan platform digital, kata kunci agar tidak terjebak menjadi “mesin perusak” di arena pemilu adalah profesionalisme.

Karena itu, dia meminta media massa yang menjadi anggota JMSI, untuk terus dan harus selalu memperhatikan Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Pemberitaan Media Siber, juga Pedoman Pemberitaan Isu Keberagaman yang telah disusun oleh masyarakat pers nasional.

“Adapun MoU antara Polri dan Dewan Pers yang tengah disusun menyusul pertemuan kemarin, saya yakin isinya adalah untuk memperkuat kerja jurnalistik kita, agar media massa dapat benar-benar menjalankan fungsinya sebagai aktor perekat kohesifitas di tengah masyarakat,” demikian Teguh Santosa. ( F_10/r )