
Medan,Kompastalk.co– Kehebohan melanda Medan menyusul aksi brutal yang diduga dilakukan oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumatera Utara. Peristiwa ini telah menimbulkan keresahan dan kemarahan warga, khususnya Ibu Desmawati, korban perusakan rumah di Jalan Asam Kumbang yang kini menuntut keadilan. Kasus ini bukan hanya soal kerugian materiil, tetapi juga tentang penegakan hukum dan keadilan yang harus dijalankan tanpa pandang bulu.
Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Ibu Desmawati menceritakan bagaimana rumahnya dirusak secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas oleh pihak BPMP Sumut. Kejadian yang mengejutkan ini telah menimbulkan trauma mendalam baginya dan keluarganya. Lebih dari sekadar perusakan, ini merupakan tindakan intimidasi dan teror yang tidak dapat ditoleransi.
Bukti-bukti berupa foto kerusakan, rekaman video, dan kesaksian warga sekitar memperkuat tuduhan kebiadaban yang dilakukan oleh BPMP Sumut. Namun, yang lebih penting adalah tuntutan keadilan bagi Ibu Desmawati dan warga Medan lainnya yang merasa terancam.
Sikap BPMP Sumut yang dinilai dingin dan acuh tak acuh semakin memicu kecurigaan akan adanya upaya untuk menutup-nutupi kasus ini. Kebungkaman mereka dianggap sebagai penghinaan terhadap hukum dan keadilan.
Kepolisian Daerah Sumatera Utara didesak untuk bertindak tegas dan segera menyelidiki kasus ini. Pelaku harus ditangkap dan dihukum seberat-beratnya agar kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum dapat dipulihkan. Keadilan harus ditegakkan tanpa kompromi. Indonesia harus menjadi tempat yang aman dan menjunjung tinggi hukum, bukan tempat berlindung bagi para pelaku kebiadaban. Keadilan adalah harga mati bagi Ibu Desmawati dan seluruh rakyat Medan yang merasa terluka dan panik.
Kepala BPMP Sumut Tajudin saat dikonfirmasi Media melalui Aplikasi Whatsapp tidak merespon dan menanggapi nya hingga berita ini ditayangkan.
